Arsip Berita: January 2018

Terus bergerak di zona merah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik ke zona hijau. Senin (29/1), IHSG IHSG menguat 20 poin atau 0,30% ke rekor tertinggi baru, 6.680,62. Anjloknya sektor infrastruktur hingga 1,34% tak menghalagi indeks mencetak rekor.

Pasalnya, tiga sektor melonjak lebih dari 1% pada perdagangan awal pekan ini. BACA JUGA Kinerja emiten menjadi bensin IHSG IHSG mencoba perbarui rekor pagi ini IHSG diproyeksikan konsolidasi hari ini Telah naik tinggi, laju IHSG diprediksi tak lagi kencang Sektor tambang masih kuat melaju hingga 2,56%.

Sektor perkebunan menguat 1,75%. Sektor konstruksi melonjak 1,69%. Sektor perdagangan menguat 0,87%. Sektor industri dasar naik 0,25%. Sektor keuangan meningkat 0,16%. Sektor manufaktur naik 0,11% dan sektor barang konsumer naik tipis 0,03%. Rekor IHSG hari ini ditopang oleh volume transaksi 12,57 miliar saham. Sedangkan nilai transaksi mencapai Rp 10,99 triliun. Sebanyak 224 saham menguat, 147 saham melemah, dan 115 saham bergerak mendatar.

Berikut top gainers pada indeks

LQ45:

- PT Global Mediacom Tbk (BMTR) 7,46%

- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) 5,85%

- PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) 5,63%

Sedangkan top losers terdiri dari:

- PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) 5,32% 

- PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) -3,45%

- PT Gudang Garam Tbk (GGRM) -2,43%

Investor asing mencetak net sell Rp 300,38 miliar di pasar reguler dan total Rp 399,9 miliar di seluruh pasar. Saham dengan penjualan bersih asing terbesar adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 192,5 miliar, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 171,7 miliar, dan PGAS Rp 137,8 miliar. Sedangkan saham-saham dengan pembelian bersih asing terbesar adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 211,7 miliar, PT Adaro Energy Tbk (ADRO) Rp 87,5 miliar, dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) Rp 26,3 miliar.

Aksi penghimpunan dana di pasar modal mulai marak di awal tahun ini. Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia mulai menyusun rencana penerbitan saham baru alias rights issue. Setidaknya ada empat emiten yang siap menggelar rights issue.

Dua di antaranya, PT Surya Eka Perkasa Tbk (ESSA) dan PT Batavia Prosperindo Finance Tbk (BPFI), sudah mendapatkan persetujuan pemegang saham masing-masing. Dari beberapa rights issue, BRI Agroniaga paling menarik dieksekusi Surya Esa Perkasa tetapkan harga rights issue Rp 150 per saham Batavia Prosperindo Finance bidik Rp 100 miliar dari rights issue Adapun PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) akan meminta restu pemegang saham lewat RUPSLB pada 19 Februari 2018.

Sedangkan PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (AGRO) masih merencanakan aksi ini. Di antara keempat emiten yang bakal melaksanakan aksi korporasi tersebut, analis Paramitra Alfa Sekuritas William Siregar menilai saham rights issue AGRO dan META paling menarik untuk dieksekusi. Rencana AGRO untuk 'naik kelas' dari bank BUKU II menjadi BUKU III membuat rights issue anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) ini menarik dicermati. "Tujuannya lebih realistis sehingga bisa diterima oleh kalangan investor," ungkap William, Senin (29/1). Aksi rights issue ini juga akan membuat jumlah saham AGRO yang beredar di publik menjadi bertambah dari saat ini sebanyak 1,29 miliar saham, atau setara 7,20% saham.

Hal tersebut membuat saham AGRO semakin likuid pasca rights issue nanti. William juga menyebutkan rencana rights issue META cukup menarik. Sebab, META akan menggunakan dana hasil rights issue untuk membiayai modal kerja dan ekspansi di bidang infrastruktur. "Namun, investor harus siap menunggu lama jika menginvestasikan uangnya ke saham ini," papar dia. Model bisnis META yang membutuhkan waktu setidaknya tiga hingga lima tahun untuk pembangunan proyek tol membuat investor yang melaksanakan haknya dalam rights issue ini harus menunggu sebelum bisa merasakan hasil investasinya.

Back to Top